This is really fascinating read. Click HERE to know what I'm talking about.
One lesson I got from this is: More doesn't mean better.
In one of the videos about the child getting kidnapped I was so touched with what the two young man did. Imagine seeing a kid screaming for help and not doing anything. How horrible!
Is society REALLY like that?
I seriously hope not. Research and studies on human behavior can sometimes provide a pattern or a system of the human behavior but I believe its not permanent. We can always break out of this system. We just need to be conscious of what we do.
Its not simple but I believe in it.
People don't automatically fall into the bystander effect. It's just scary how we (in general) like to leave the responsibility to other people.
In my class there was once a case where my lecturer told the students at the back row to send a representative to come down and get some papers to distribute to the group of students who sit at the back. This would require only ONE student to come down. Yet the decision made for ONE student to volunteer to come down took more than 5 minutes. Imagine the exasperation. My lecturer actually yelled "What? ARE YOU DEAF? I said COME DOWN TO GET THE PAPER!!!!!" Do you see what happened? The students in the back row assumes that someone other than themself would go down to get the papers and in the end no one made a move. Only when my lecturer yelled did some students begin to move.
Its really exasperating! A decision that could be made within miliseconds turned to 5 minutes just because everyone in the back assume someone would do it. And this was a simple decision to make. Just stand up and go. It's not like they had to save someone or jump in a river or something. So imagine if you saw a person drowning. How many minutes do you think you'll take if there were other bystanders with you? I think by the time you made a decision the person would have already drowned.
I find human psychology my favourite study. I recommend others who like this field to read BLINK. BLINK is a book written by Malcolm Gladwell delving into the topic of human psychology in cases where we have to make snap judgement. The power of thinking without thinking. Somewhere along the lines of your subconscious mind.
How often do you find yourself regretting over what you did? Or maybe thinking why you did such a thing? Maybe you didn't have much time to think over what you did. Or maybe you just did what first came to mind.
Blink underlines studies on stereotyping, preconceptions and the effect of pressure or duress towards our actions and our decisions.
*******************************************************
One really interesting case in the book caught my interest.
"Tragedy on Wheeler Avenue"
4 police men driving by a neighbourhood late at night came across a young black man. They were driving pass and so they couldn't see him well. One thing they noticed other than the fact he was black, was that he was a small man. What does small mean? - It means he's got a gun. -
Its 12:30 in the morning and he's alone in a lousy neighbourhood. The preconception -he's got a gun.
The policemen believe that if he was alone in that neighbourhood he wouldn't dare come outside his apartment alone. Therefore, they believed him to have a gun. Or else where did he get the bravery to come out alone? (THIS is not fact. They just came up with this reasoning not based on any solid information but on their own belief that if he's black and in a lousy neighbourhood in the late hours it means he has a gun. I know this sounds irrational but if you were the police wouldn't you think so too? Try ask yourself and picture yourself in their shoes before you judge them.)
They stopped the car, 2 police came out and called out to the man, "Police. Can we have a word?"
The man panicked; terror was written all over his face. Why wouldn't he be afraid? 2 big white man are coming towards him at that late an time, so he ran. Now this then turns into a pursuit.
Here's another fact: The policemen are new to the neighbourhood AND new to the street crime unit.
Guess what happens during the pursuit?
The police men's heart rate soars. The pressure is on and they don't know how to handle it.
The man turns sideways upon reaching his apartment door and digs something in his pocket.
AND all hell breaks loose.
"He's got a gun!" And they began shooting.
After 41 bullets were shot, the boss went to the body and checks it.
"Where's the fucking gun!?"
One police officer runs up the street and another sits next to the bullet-ridden body and starts to cry.
This story from the book underlines the dangers of our preconceptions and stereotype.
The policemen saw that he was a black man in a lousy neighbourhood and came up with the conclusion that the man had a gun. You might think that this situation happened for probably more than 10 minutes. Fact is that it happened in a few seconds. Around 1000 seconds but these few seconds were enough steps and decisions to fill a lifetime.
Other books by Malcolm Gladwell are Tipping Point and Outliers. I got them both but have yet to read them.
Hope you'll read them too. (Here's another link to a review on BLINK)
And one last link which i find interesting...
Chao~!
Wednesday, February 17, 2010
Bystander Effect
Wednesday, May 20, 2009
Pahlawan Neraka
Suatu hari satu pertempuran telah berlaku di antara pihak Islam dengan pihak Musyrik. Kedua-dua belah pihak berjuang dengan hebat untuk mengalahkan antara satu sama lain. Tiba saat pertempuran itu diberhentikan seketika dan kedua-dua pihak pulang ke markas masing-masing.
Di sana Nabi Muhammad S.A.W dan para sahabat telah berkumpul membincangkan tentang pertempuran yang telah berlaku itu. Peristiwa yang baru mereka alami itu masih terbayang-bayang di ruang mata. Dalam perbincangan itu, mereka begitu kagum dengan salah seorang dari sahabat mereka iaitu, Qotzman. Semasa bertempur dengan musuh, dia kelihatan seperti seekor singa yang lapar membaham mangsanya. Dengan keberaniannya itu, dia telah menjadi buah mulut ketika itu.
"Tidak seorang pun di antara kita yang dapat menandingi kehebatan Qotzman," kata salah seorang sahabat.
Mendengar perkataan itu, Rasulullah pun menjawab, "Sebenarnya dia itu adalah golongan penduduk neraka."
Para sahabat menjadi hairan mendengar jawapan Rasulullah itu. Bagaimana seorang yang telah berjuang dengan begitu gagah menegakkan Islam boleh masuk dalam neraka. Para sahabat berpandangan antara satu sama lain apabila mendengar jawapan Rasulullah itu.
Rasulullah sedar para sahabatnya tidak begitu percaya dengan ceritanya, lantas baginda berkata, "Semasa Qotzman dan Aktsam keluar ke medan perang bersama-sama, Qotzman telah mengalami luka parah akibat ditikam oleh pihak musuh. Badannya dipenuhi dengan darah. Dengan segera Qotzman meletakkan pedangnya ke atas tanah, manakala mata pedang itu pula dihadapkan ke dadanya. Lalu dia terus membenamkan mata pedang itu ke dalam dadanya."
"Dia melakukan perbuatan itu adalah kerana dia tidak tahan menanggung kesakitan akibat dari luka yang dialaminya. Akhirnya dia mati bukan kerana berlawan dengan musuhnya, tetapi membunuh dirinya sendiri. Melihatkan keadaannya yang parah, ramai orang menyangka yang dia akan masuk syurga. Tetapi dia telah menunjukkan dirinya sebagai penduduk neraka."
Menurut Rasulullah S.A.W lagi, sebelum dia mati, Qotzman ada mengatakan, katanya, "Demi Allah aku berperang bukan kerana agama tetapi hanya sekadar menjaga kehormatan kota Madinah supaya tidak dihancurkan oleh kaum Quraisy. Aku berperang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku. Kalau tidak kerana itu, aku tidak akan berperang."
Riwayat ini telah dirawikan oleh Luqman Hakim.
siapa ada cerita lanjut atau tahu hadis penuhnya bolehlah bagi tahu ya.......
Thursday, May 7, 2009
ASSABIYYAH(Nasionalisme) dan WATHANIYYAH(Patriotisme) - Pencetus Malapetaka Dan Perpecahan
Di dalam suasana rakyat Malaysia berpesta meraikan ulang tahun ke-50 kemerdekaan sebuah negara-bangsa yang diberi oleh penjajah, satu peristiwa tragis yang juga terkait dengan negara-bangsa telah ‘meletus’ pada masa yang sama. Insiden seorang pengadil karate dari Indonesia yang dipukul empat orang anggota polis Malaysia di Nilai, Negeri Sembilan pada 24 Ogos lepas telah mencetuskan kemarahan pelbagai pihak di Indonesia dari peringkat rakyat, pertubuhan-pertubuhan hinggalah ke peringkat ahli politik. Pengadil tersebut, Donald Kolopita pecah gegendang sebelah telinga dan lebam di beberapa bahagian badan termasuk kemaluan sehingga terpaksa dimasukkan ke wad. Tunjuk perasaan anti Malaysia diadakan tiga hari berturut-turut di hadapan Kedutaan Malaysia, di Jakarta dan pejabat konsul Malaysia di Medan dan Kalimantan. Perkarangan Kedutaan Malaysia dilontar dengan kayu, batu dan telur. Jalur Gemilang juga dibakar oleh para penunjuk perasaan yang sedang marah [Mingguan Malaysia 02/09/07].
Selain itu, berbagai-bagai kecaman dan sindiran dibuat oleh pelbagai pihak di Jakarta daripada artis hinggalah pemimpin politik, terhadap pemerintah dan rakyat Malaysia berhubung penganiayaan terhadap tenaga kerja dan kes pencederaan pengadil karate tersebut. Media massa di Indonesia terus menerus membakar semangat rakyat, seolah-olah tidak ada langsung yang baik tentang negara yang menjadi tempat naungan lebih 1.5 juta pedududuk Indonesia untuk mencari rezeki. Rakyat Malaysia juga dituduh angkuh dan dianggap sebagai bangsa yang biadap. Ada yang mengancam untuk bertindak balas termasuk mengusir rakyat Malaysia yang berada di sana. Walaupun pernyataan maaf telah dikeluarkan oleh Perdana Menteri Malaysia sendiri bagi menjaga kehamornian yang terjalin antara dua negara, masih ada nada-nada sindiran secara tidak langsung oleh penyampai stesen televisyen. Mereka tidak dapat menerima penjelasan itu sekalipun telah ditegaskan bahawa insiden seperti penderaan dan penganiayaan itu telah diberikan perhatian serius dan perbuatan itu bukan budaya rakyat Malaysia. Beberapa pihak juga telah mendesak pemimpinnya agar tidak menghadiri perayaan ulang tahun kemerdekaan dan sambutan 50 tahun hubungan diplomatik Malaysia-Indonesia di Kuala Lumpur dan di Jakarta [Mingguan Malaysia 02/09/07].
Demikianlah seriusnya suasana ini. Perasaan marah yang membuak-buak yang ditunjukkan oleh mereka yang tidak puas hati adalah tidak lain kerana insiden ini melibatkan dua negara-bangsa yang berbeza. Dengan kata lain, hal ini sebenarnya muncul dari perasaan dan pemikiran bahawa ‘aku warganegara Indonesia dan engkau warganegara Malaysia’. Inilah perasaan assabiyyah (kebangsaan/nasionalisme) yang muncul kerana perbezaan bangsa, ditambah pula dengan rasa sayangkan tanahair/negara (wathaniyyah/patriotisme). Ketegangan dan kekecohan yang berlaku di atas adalah manifestasi dari nasionalisme dan patriotisme, yang jelas-jelas merupakan pemikiran kufur yang dijadikan ikatan oleh sebahagian kaum Muslimin, tanpa memperdulikan persamaan akidah yang mereka miliki. Analoginya cukup mudah; jika yang dipukul itu adalah pengadil karate dari Malaysia sendiri (katakan beragama Islam), maka sudah barang pasti rakyat Indonesia tidak akan terasa apa-apa. Tidak akan ada demonstrasi, tidak akan ada perasaan sakit hati, marah, dendam dan sebagainya dan yang pasti berita ini tidak akan dipandang sedikitpun, apatah lagi untuk dijadikan satu isu. Begitu juga jika yang dipukul itu adalah rakyat Mesir atau Turki (walau beragama Islam sekalipun), tentunya rakyat Indonesia akan diam membisu. Sebaliknya, rakyat Mesir atau Turki pula yang akan melenting. Inilah hakikat assabiyyah dan wathaniyyah.
Assabiyyah – Agenda Kuffar Menghancurkan Islam
Assabiyyah merupakan ikatan yang mengikat bangsa Arab Jahiliyyah sebelum kedatangan Islam. Mereka sering bergaduh serta berperang antara satu sama lain semata-mata kerana ingin mempertahan puak masing-masing. Setelah Rasulullah diutus, baginda terus menghapuskan ikatan ini dan menyatukan manusia di bawah satu ikatan baru yang bukan sahaja dapat mengikat bangsa Arab, malah seluruh umat manusia. Siapa sahaja yang menyahut seruan Rasulullah, maka terburailah semua ikatan bangsa atau keturunan, walau antara bapa dengan anak sekalipun dan mereka hanya bersatu di bawah ikatan yang baru ini, yakni ikatan La ilaha illallah Muhammad Rasulullah.
Ikatan akidah ini terus menjadi asas kepada hubungan antara Muslim selama beribu tahun, dari zaman Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa Sallam hinggalah ke zaman Khilafah Uthmaniyyah. Islam telah menyatukan bangsa Arab, Barbar, Rom, Parsi, India dan lain-lain dan menjadikan mereka ummatan wahidah (umat yang satu). Islam juga telah mempersatukan manusia tanpa mengira warna kulit, keturunan, bahasa mahupun status sosial. Semuanya disatukan berdasarkan kalimah yang sama dan digabungkan di bawah negara yang sama (Daulah Khilafah). Tidak diragukan lagi, kalimah tauhid inilah yang telah meruntuhkan semua sifat dan sempadan assabiyyah serta wathaniyyah yang telah membelenggu manusia selama ini. Dan ikatan suci tanpa sempadan inilah yang pihak kuffar Barat berusaha siang dan malam untuk menghapuskannya.
Dengan membelek lipatan sejarah, kita akan dapati bahawa pihak kuffar telah berusaha berabad-abad lamanya untuk menghancurkan Daulah Islam yang telah dibina dan berdiri kukuh di atas asas akidah yang telah dibawa oleh Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam. Peperangan demi peperangan tak kunjung padam, bermula dari Perang Badar, Uhud, Ahzab, Mu’tah, Tabuk, Yarmuk, Qadisiyah, dan yang paling panjang, Perang Salib. Namun, semua usaha golongan kuffar untuk memadamkan cahaya Allah ini tidak mendatangkan hasil. Kekuatan Daulah Islam yang tiada taranya membuatkan musuh-musuh Islam akur bahawa Daulah Islam adalah satu kuasa yang tidak akan dapat dikalahkan. Hal ini berlaku tidak lain kerana kaum Muslimin memerangi kuffar semata-mata atas satu dasar yakni Islam. Kaum Muslimin dulunya adalah orang-orang yang hidup hanya untuk Islam dan sanggup menyerahkan jiwa dan raga demi Islam, bukannya demi assabiyyah atau wathaniyyah. Bak ungkapan Khalid Al-Walid kepada pihak musuh di dalam satu peperangan “Orang-orang yang bersamaku ini mencintai mati (syahid) sebagaimana kamu mencintai hidup.” Para mujahideen ini berjuang dengan penuh semangat, keberanian dan keimanan demi meninggikan kalimah Allah dan bukannya berperang atas dasar bangsa atau tanahair.
Setelah gagal mengalahkan Daulah Islam, sebaliknya tersungkur di dalam banyak peperangan, golongan kuffar mula mencari cara lain untuk menghancurkan Islam. Akhirnya mereka menemukan jalan bahawa satu-satunya cara untuk mengalahkan kaum Muslimin adalah dengan memisahkan mereka dari ajaran Islam yang selama ini telah sebati dengan kaum Muslimin. Mereka yakin bahawa hal ini akan dengan sendirinya meruntuhkan Daulah Islam dari dalam. Dalam satu sidang House of Commons, Perdana Menteri Britain berketurunan Yahudi, Benjamin Disraeli pernah mengatakan, “Kaum Muslimin tak akan dapat dikalahkan sampai bila-bila sehingga ini dicabut dari mereka”, sambil jarinya menunjuk kepada Al-Quran. Inilah hasrat dan cita-cita mereka dan mereka benar-benar melaksanakannya. Agenda untuk memasukkan racun assabiyyah ke tubuh kaum Muslimin telah diberi perhatian serius oleh mereka. Mereka mula mengirim para muballigh (missionaries) ke dalam Daulah Islam kononnya untuk ‘ilmu dan kemanusiaan’ walhal tujuan sebenarnya adalah untuk menanam benih perpecahan di tengah-tengah jantung Daulah. Malangnya Daulah tidak dapat menghidu perkara ini, lalu membenarkan kemasukan missionaries ini. Walaupun mengalami kesukaran di peringkat awal, namun akhirnya, benih yang ditanam mula mengakar umbi dan hidup di dalam tubuh Daulah dan terus tumbuh sebagai parasit yang menjahanamkan perumahnya sedikit demi sedikit.
Melalui gerakan missionaries inilah, golongan kuffar berjaya di dalam makar mereka untuk memecahbelahkan umat Islam dan Daulah Islam dengan api assabiyyah dan wathaniyyah yang mereka hembuskan. Kaum Muslimin benar-benar terasuk dengan pemikiran kufur, mengalami perpecahan dan terlibat dengan perbalahan serta pergaduhan sesama sendiri yang tidak pernah mereka alami sebelum ini. Mereka mula membenci sesama sendiri dan tidak dapat menerima pemerintah yang bukan dari bangsa mereka. Mereka merasa seolah-olah ditindas dan dizalimi oleh pemerintah berbangsa asing, walhal kesemuanya adalah Muslim. Mereka mula menyanjung dan memuja pemikiran-pemikiran dari Barat yang kononnya membawa kebebasan dan kemajuan. Dengan racun nasionalisme dan patriotisme yang sudah menular di badan, maka muncullah perjuangan untuk memerdekakan diri sebagai satu bangsa bagi menubuhkan negara sendiri yakni negara yang berdiri atas asas bangsa. Dari sini muncullah pejuang-pejuang kebangsaan (yang sebenarnya adalah agen British) seperti Mustafa Kamal, Syarif Hussein beserta kedua anaknya Faizal dan Abdullah yang hakikatnya ditaja dan dibiayai oleh British untuk menjatuhkan Daulah Khilafah. Akhirnya, melalui perjuangan assabiyyah dan wathaniyyah yang dilancar tanpa henti, tumbanglah sebuah Daulah Islam yang selama ini menyatukan kaum Muslimin atas dasar ‘La ilaha illallah Muhammad Rasulullah’ dan bermulalah pemerintahan negara-bangsa yang terpecah-belah dan terdiri dari pemimpin yang kebanyakannya adalah agen Barat.
Wahai kaum Muslimin! Baik dari segi sejarah mahupun apa yang sedang kita saksikan sekarang, ikatan assabiyyah dan wathaniyyah ini telah terlalu banyak membawa malapetaka dan perpecahan kepada umat Islam. Perasaan-perasaan kufur ini boleh disifatkan sebagai sebuah time-bomb (bom jangka) yang boleh meletup pada bila-bila masa sahaja apabila ianya diusik. Selagi ikatan kufur ini tidak dihapuskan ke akar umbinya, selagi itulah lingkaran kekufuran akan terus menguasai dunia Islam.
Keharaman Nasionalisme & Patriotisme
Nasionalisme adalah satu konsep yang bercanggah dengan ajaran Islam kerana ia mengikat dan menyatukan manusia atas dasar bangsa atau keturunan, walhal satu-satunya cara yang benar untuk mengikat dan menyatukan umat Islam adalah berdasarkan ikatan akidah. Bersatu atas dasar jalur keturunan atau bangsa jelas-jelas diharamkan oleh Islam. Abu Daud meriwayatkan bahawa Rasullullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Bukanlah dari kami orang-orang yang menyeru kepada assabiyyah, berperang atas dasar assabiyyah dan mati kerana (mempertahankan) assabiyyah”.
Terdapat banyak peristiwa di dalam sirah di mana Rasulullah mencela mereka yang cuba mempertahankan sikap assabiyyah ini. Dalam satu kejadian, sekumpulan Yahudi merancang untuk memecahkan kesatuan kaum Muslimin setelah dengki melihat bersatunya Auz dan Khazraj atas dasar Islam. Mereka menghantar beberapa orang pemuda untuk melaga-lagakan Aus dan Khazraj dengan mengungkit semula kisah Perang Bu’ath di mana golongan Aus berjaya mengalahkan Khazraj. Hasilnya terjadilah perkelahian antara Aus dan Khazraj dan hal ini kemudiannya sampai ke pengetahuan Rasulullah. Nabi dengan tegas lalu bersabda, “Wahai kaum Muslimin, ingatlah kalian kepada Allah, ingatlah kalian kepada Allah! Kenapa kalian mengikuti seruan Jahiliyyah, padahal aku masih berada di tengah-tengah kalian. Dan Allah sebelumnya telah memberi petunjuk kepada kalian dengan Islam, memuliakan kalian dengannya, memutuskan segala kejahiliyyahan dari kalian, menyelamatkan kalian dari kekafiran dan menyatukan hati kalian.” Apabila mendengar sabda Nabi ini, kaum Aus dan Khazraj terus sedar bahawa seruan Jahilliyah adalah tipuan syaitan, dan salah satu dari makar musuh Allah terhadap mereka. Mereka terus menangis dan berpelukan antara satu sama lain. Peristiwa ini merupakan asbabun nuzul Surah Ali Imran (3):102-103. [Sirah Ibn Hisyam].
At-Thabrani dan al-Hakim melaporkan bahawa pada suatu hari beberapa orang sedang berbual tentang Salman al-Farisi dengan merendah-rendahkan bangsa Parsi berbanding bangsa Arab. Apabila mendengar hal ini, Rasulullah tersu bersabda, “Salman adalah dari ahli al-bait (keluarga Rasulullah).” Kata-kata Nabi ini sebenarnya memutuskan segala bentuk ikatan berdasarkan keturunan atau bangsa. Dikisahkan juga oleh Ibn Al-Mubarak di dalam dua kitabnya, Al-Birr dan As-Salah bahawa terjadi perselisihan antara Abu Zar dan Bilal, lalu Abu Dzar berkata kepada Bilal, “Engkau anak orang hitam.” Rasulullah amat marah mendengar kata-kata Abu Zar ini lalu bersabda, “Engkau sudah melampau wahai Abu Dzar. Orang yang mempunyai ibu yang putih langsung tidak ada kelebihan di atas orang yang mempunyai ibu yang hitam.” Kata-kata Rasulullah ini memberi kesan yang mendalam ke atas Abu Dzar sehingga beliau meletakkan kepalanya ke tanah dan bersumpah tidak akan mengangkat kepalanya selagi Bilal tidak memijak kepalanya.
Peristiwa-peristiwa di atas menunjukkan kepada kita bahawa ikatan assabiyyah dan wathaniyyah langsung tidak ada tempat di dalam Islam. Kaum Muslimin diperintahkan agar bersatu atas dasar persamaan akidah dan tidak membezakan antara satu sama lain hanya disebabkan oleh perbezaan bangsa atau asal keturunan. Rasulullah mengingatkan kita bahawa kaum Muslimin adalah umpama tubuh yang satu, jika salah satu bahagian sakit maka keseluruhan tubuh akan terasa sakit. Ini bermakna setiap Muslim tidak kira Arab, Melayu, Cina, Turki, Kurdi, Pakistan dan sebagainya adalah ummatan wahidah dan kita tidak boleh dibezakan antara satu sama lain berdasarkan bangsa mahupun tanahair.
Sesetengah orang mendakwa bahawa Rasulullah membenarkan assabiyyah berdasarkan peristiwa hijrah di saat Rasulullah bersabda tentang Mekah dengan air mata membasahi pipinya, “Engkau (Mekah) adalah bumi Allah yang paling aku sayangi.” Sebenarnya kata-kata Nabi ini langsung tidak ada kena-mengena dengan assabiyyah (nasionalisme) mahupun wathaniyyah (patriotisme). Kesalahfahaman ini timbul kerana hadis ini selalunya tidak dibaca atau dipetik secara sepenuhnya, yang berbunyi, “Engkau (Mekah) adalah bumi Allah yang paling aku sayangi kerana engkau adalah bumi yang paling Allah sayangi”. Oleh itu, kecintaan Rasulullah kepada Mekah adalah kerana kedudukannya yang suci yang Allah berikan dan bukannya kerana Rasulullah dilahirkan di sana. Setiap Muslim justeru mesti cinta dan sayangkan Mekah kerana bumi ini adalah bumi yang paling Allah sayangi dan hal ini langsung tidak ada hubung-kaitnya dengan nasionalisme atau patriotisme!
Perubahan Politik Dan Kepimpinan
Walaupun nasionalisme di kalangan kaum Muslimin kini semakin terhakis, namun masih terdapat beberapa halangan untuk menghapuskan penyakit ini secara total dari dunia Islam. Halangan ini mesti dikaji dan difahami betul-betul oleh umat Islam agar usaha untuk menghapuskannya berjalan sesuai dengan tuntutan syara’. Halangan utama yang wujud adalah kerana umat Islam itu sendiri (khususnya pemerintah) yang tidak berhukum dengan hukum Islam. Ini adalah manifestasi dari sistem politik kufur yang diamalkan dan sistem pendidikan yang masih bertunjangkan kurikulum penjajah. Ini ditambah dengan kedudukan pemimpin-pemimpin dunia Islam yang rata-ratanya adalah agen Barat atau pun tunduk patuh pada kuffar Barat.
Tidak ada fakta yang dapat menafikan bahawa sistem pendidikan yang diamalkan di negeri-negeri umat Islam sekarang adalah hasil tinggalan penjajah yang telah direka sedemikian rupa oleh golongan kufur ini agar memisahkan hukum-hukum Islam dari kehidupan. Islam hanya diajar sekadar sebuah ‘agama’ sebagaimana ‘agama’ yang difahami oleh Barat, yang langsung tidak berfungsi di dalam kehidupan kecuali di dalam bidang ritual sahaja. ‘Islam’ hanya menjadi salah satu dari subjek yang langsung tidak ada kaitan dengan penyelesaian masalah manusia (mu’alajah li masyaakil insan), apatah lagi jika hendak dikaitkan Islam dengan sistem pemerintahan, politik, mua’malat, uqubat, jihad, ghanimah, jizyah, hubungan antarabangsa dan sebagainya. Sistem pendidikan yang ada bukan sekadar mengembangkan lagi sekularisme sebagaimana yang Barat mahukan, malah direka dengan sebaik mungkin untuk memastikan anak-anak kaum Muslimin disemai dengan benih cintakan bangsa dan tanahair dan mesti sanggup mati demi mempertahankannya.
Namun demikian, sistem pendidikan bukanlah halangan terbesar di dalam menghapuskan assabiyyah dan wathaniyyah kerana sistem pendidikan hanyalah ‘produk’ dari sistem politik dan pemerintahan. Dengan kata lain, sekiranya sistem politik berjaya diubah, maka insya Allah sistem pendidikan juga akan turut berubah. Malangnya, sistem politik yang berjalan sejak runtuhnya Daulah Khilafah adalah tidak lebih dari apa yang telah dicorakkan oleh penjajah. Melihat kepada situasi politik pada hari ini, secara de factonya ia akan meletakkan umat Islam selamanya terpisah (melalui negara-bangsa) atas dasar assabiyyah dan wathaniyyah. Secara sedar atau tidak, pemimpin kaum Muslimin yang ada pada hari ini adalah ‘mekanisme’ utama Barat untuk memastikan kaum Muslimin tidak akan bergabung semula dari segi politik. Sesungguhnya ramai dari pemimpin kaum Muslimin yang berkuasa pada hari ini sebenarnya ‘dimahkotakan’ secara langsung oleh Barat dan tak kurang pula bilangan yang diberi lampu hijau untuk memerintah selama mana mereka mengikut telunjuk Barat. Para pemimpin inilah yang bermati-matian mempertahankan batas sempadan palsu yang Barat tetapkan hingga ada yang mengisytiharkan perang sesama Muslim atas dasar perbezaan sempadan ini, semata-mata kerana takut kehilangan takhta. Lebih dahsyat, para pemerintah ini sanggup menangkap, memenjara, menyiksa malah membunuh rakyatnya sendiri yang berjuang untuk menyatukan semula kaum Muslimin di bawah satu payung pemerintahan dengan menghapuskan segala bentuk assabiyyah dan wathaniyyah.
Manifestasi pemikiran kufur ini (nasionalisme dan patriotisme) tidak akan dapat di atasi tanpa adanya perubahan politik. Jika para pemimpin kaum Muslimin ini tidak mahu menukar pemikiran kufur yang ada pada mereka dan menggantikannya dengan pemikiran Islam, maka mereka ini pada hakikatnya wajib ditukar dan diganti dengan para pemimpin ikhlas yang akan menerapkan hukum-hukum Allah. Dengan ini, benteng penghalang terbesar dalam menghancurkan pemikiran assabiyyah dan wathaniyyah akan dapat diruntuhkan. Nasionalisme dan patriotisme yang selama ini membelenggu umat Islam, menyebabkannya terpecah belah dan bercerai berai akan pasti terhapus dengan hidupnya pemerintahan ikhlas yang benar-benar menerapkan hukum-hukum Allah dan mengikat umat hanya dengan ikatan La ilaha illallah Muhammad Rasulullah.
Sesungguhnya keharaman assabiyyah dan wathaniyyah adalah jelas dan nyata, sebagaimana jelasnya malapetaka dan perpecahan yang dibawa keduanya. Justeru, adalah menjadi kewajiban setiap Muslim untuk menghilangkan sifat dan sikap ini dari diri mereka, seterusnya bergerak dan berusaha bersungguh-sungguh ke arah melenyapkan kekufuran ini di mana jua mereka temui. Setiap Muslim juga wajib memuhasabah (bukannya bersekongkol dengan) pemimpin yang mengamalkan fahsya’ (kekejian) ini dan berusaha menyatukan kaum Muslimin di bawah bendera ‘La ilaha illallah Muhammad Rasulullah’ tanpa mengenal batas sempadan, bangsa mahupun keturunan. Dalam konteks ini, seluruh negeri kaum Muslimin (termasuk Malaysia dan Indonesia) sepatutnya bergabung membentuk satu negara dan melantik seorang Khalifah yang akan menerapkan pemerintahan berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah. Jika dulu Rom dan Parsi yang asalnya negara kufur, boleh tunduk dan bergabung di bawah satu Daulah, apatah lagi kini, Malaysia dan Indonesia yang sememangnya negara kaum Muslimin, tentunya lebih mudah untuk digabungkan, Insya Allah. Pokoknya, jika dibuang jauh-jauh segala bentuk assabiyyah dan wathaniyyah yang mengikat kedua-dua negara sekarang ini, maka dengan izin Allah, Malaysia dan Indonesia akan bersatu.
Khatimah
Wahai kaum Muslimin! Ingatlah bahawa Allah menciptakan kalian dari setitis air mani, lalu dijadikan segumpal darah dan kemudian segumpal daging. Kalian berada di dalam keadaan yang lemah selama sembilan bulan di dalam perut ibu-ibu kalian. Allah kemudian mengizinkan kalian lahir ke dunia dalam keadaan tidak berdaya dan tidak mengerti apa-apa. Kalian kemudian menyusu dan membesar dalam dakapan ibu-ibu kalian. Apakah setelah Allah menjadikan kalian sebagai seorang Muslim, kalian kemudian merasa bangga dilahirkan sebagai seorang Melayu atau Arab atau Pakistan? Dan apakah kalian merasa bangga dengan tanahair tempat kalian dilahirkan sehingga bumi itu lebih mulia di sisi kalian berbanding bumi-bumi Allah lainnya? Ingatlah wahai saudaraku bahawa setiap insan tidak pernah meminta untuk lahir ke dunia dan setiap insan juga tidak pernah meminta jenis bangsa, keturunan dan bumi tempat untuk dia dilahirkan. Allahlah Yang Maha Mencipta dan Allahlah yang menentukan segala-galanya. Tunduk dan patuhlah wahai setiap insan...
Saturday, May 2, 2009
Agen-Agen Dajjal Akan Bermesyuarat Mei ini!!
http://ibnuyaacob.com/?p=866
oleh ibnuyaacob
Antara kelab agen-agen Dajjal yang paling berpengaruh selepas Council of Foreign Relationship (CFR) dan Trilateral Commission (TC) ialah The Bilderberg. Kelab ini menghimpunkan antara orang-orang paling berpengaruh di dalam dunia di semua bidang sama ada politik, ekonomi, teknologi dan sosial.
Maksud paling berpengaruh ialah antara mereka adalah orang yang memiliki sepenuhnya keputusan kemajuan ekonomi sesebuah negara atau pun dasar pembangunan. Mereka bukanlah tersenarai di dalam orang-orang terkaya di dunia tetapi mereka adalah paling berpengaruh.
Kita tidak boleh berfikir bahawa orang yang paling kaya adalah yang paling berpengaruh. Golongan terkaya banyak dipelopori oleh Syeikh-Syeikh negara minyak. Malangnya, mereka hanya ada duit tetapi tidak mampu membuat keputusan ke atas ekonomi mereka sendiri.
Menurut akhbar utama Greace, Elefterios Tipos, kelab Bilderberg ini dijangka akan mengadakan mensyuarat tahunannya di Athens antara 14 ke 16 haribulan Mei 2009 ini. Lokasi hotel yang dijangka ditempah masih belum dikenal pasti.
Jemputan Ahli-Ahli Mesyuarat
Menurut pendedahan Elefterios Tipos lagi, antara yang paling mengejutkan ialah jemputan kali ini dihadiri oleh kerabat-kerabat Diraja di Eropah.
Antara jemputan yang dijangka hadir ialah Ratu Netherlands iaitu Beatrix Wilhelmina Armgard (Gambar, kiri) dan Ratu Sepanyol iaitu Puteri Sophia (gambar, kanan).
Tetamu lain yang dijemput ialah
- James Jones (US National Security Council),
- beberapa menteri luar negeri Eropah
- Ali Babacan (Menteri Luar Turki)
- Dora Bakoyanni (Menteri Luar Greek)
- Kostas Karamanlis (Perdana Menteri Greek dan pemimpin parti PASOK)
- Georgios Papandreau (Menteri Greek)
- Takis Arapoglou (Presiden Bank Nasional Greek)
- Panayotis Vourloumis (Pengerusi syarikat telekomunikasi OTE)
Antara tetamu kontroversi lain yang bakal hadir ialah Domenico Siniscalco (Bekas Menteri Ekonomi Italy, kini ialah CEO syariakt Morgan Stanley). Syarikat kewangan beliau iaitu Morgan Stanley adalah syarikat yang didakwa berkomplot dengan Federal Reserve Bank bagi menjatuhkan ekonomi dunia apabila status banknya di tukar pada 21 September 2008.
(Gambar, dari kiri) Ali Babacan, Domenico Siniscalco dan Henry Kessingger
Agenda Mesyuarat
Perkara ini tidak didedahkan oleh Elefterios Tipos atau mungkin ia sendiri tidak mengetahui. Tidak diketahui apakah agenda yang bakal dibincangkan oleh ahli-ahli kumpulan ini. Semuanya kemungkinan bergantung kepada siapa yang hadir.
Antara orang yang disyaki wajib akan hadir ialah Dr. Henry Kessingger dan Warren Buffet. Seorang pakar strategi provokasi masyarakat serta polisi kerajaan manakala seorang lagi pakar dalam pasaran ekonomi dunia khususnya perbankan.
Sehingga sekarang agenda mesyuarat tidak berjaya dibawa keluar oleh mana-mana pihak walaupun sudah 54 kali mereka bermesyuarat yakni sejak 1954.
Mesyuarat mereka sangat rahsia walaupun masyarakat dapat mengetahui lokasi, tarikh dan tetamu yang hadir pada mesyuarat tersebut. Kerahsiaannya sangat dikawal ketat.
Menurut Jonathan Duffy, penganalisis politik dari BBC Online Magazine, semua wartawan tidak dibenarkan mengulas dan menulis berita serta masuk bersama dalam bilik mesyuarat, tidak boleh dirakam dan ahli-ahli mesyuarat juga tidak menulis apa-apa sebagai nota.
Suasana peraturan sebegini menurut Duffy telah menyebabkan teori-teori konspirasi berkembang dengan cepat kerana adanya kesangsian terhadap agenda mesyuarat.
Faktor-Faktor Mesyuarat
Mesyuarat yang bakal berlangsung di Athens adalah kelangsungan mesyuarat tahunan yang pernah dibuat di Chantilly, Virgina pada Mei 2008 lepas.
Kebanyakan Conspiracy Theorist masih menunggu perkembangan terkini dari berita-berita Greek mengenai faktor-faktor mesyuarat tersebut. Namun bagi kami, mesyuarat ini lebih kepada perancangan Perang Konsppirasi Dajjal (PKD) pusingan kedua memandangkan pusingan pertama gagal.
Ini berdasarkan jemputan tetamu telah diberikan kepada CEO Stanley Morgan. Penglibatan syarikat perbankan dalam mesyuarat dan gabungan dengan Dr. Henry Kessingger akan memungkinkan satu bentuk strategi baru peperangan dengan dunia Islam.
Read More......Wednesday, April 29, 2009
Mengenal Firqah-Firqah Yahudi (2)

Rotary Club
Rotary adalah sebuah organisasi mantel Free Masonry yang sepenuhnya dikendalikan Yahudi internasional. Organisasi ini lebih populer dengan sebutan Rotary Club, dari kata-kata in rotation, sebuah ungkapan yang dibarengi dengan pertemuan-pertemuan utama bagi para anggota club yang dilaksanakan di kantor-kantor mereka secara bergilir.
Sejarah Berdiri dan Tokoh-tokohnya
Paul Harris, seorang tokoh advokat, pertama kali mendirikan Rotary Club di Chicago pada tahun 1905. Tiga tahun kemudian, Shirley Barry bergabung ke dalam club ini dan memperluas gerakannya dengan cepat. Ia kemudian menjadi sekretaris club dan kemudian mengundurkan diri dari club ini pada tahun 1942. Paul Haris meninggal tahun 1947 setelah gerakannya berkembang ke 80 negara dan mempunyai 6800 club serta 327.000 anggota.
Pusat gerakan ini kemudian pindah ke Dublin, Irlandia pada tahun 1911 atas jasa seorang aktivis yang bernama Mr. Moore. Ia pernah mempersoalkan komisi dari setiap anggota baru organisasi ini yang tersebar di Inggris.
Pada tahun 1921 Rotary Club berdiri di Madrid, tetapi kemudian dibekukan dan dilarang melakukan aktivitas di seluruh Spanyol.
Pada tahun 1921 Rotary Club berdiri di Palestina. Ketika itu negara masih menjadi impian zionis. Ia merupakan salah satu cabang Rotary yang paling lama berdiri di kawasan negara-negara Arab. Tahun 30-an berdiri cabang-cabang Rotary di Aljazair dan Maroko di bawah perlindungan penjajahan Prancis. Di Tripoli Barat terdapat cabang Rotary. Anggota Dewan administrasinya antara lain John Robinson dan Von Krieg.
Jacob Barzef adalah ketua Rotary Club Israel pada tahun 1974. Pada tanggal 14 Maret 1973 ia bertolak menuju ke kota Taormina di Sisilia untuk menghadiri sebuah konferensi yang diselenggarakan Rotary Club Italia. Dalam konferensi itu, ia menyatakan akan terjadinya sebuah konferensi Arab-Israel. Sebab, di dalam konferensi itu telah hadir delegasi berbagai negara Arab dan delegasi Israel.
Pembicara pertama dalam konferensi itu ialah Mukhtar Aziz, utusan Rotary Club Tunisia. Kemudian, disusul dengan utusan Israel, Jacob Barzef, seorang Yahudi militan.
Pemikiran dan Doktrin-doktrinnya
Agama tidak dijadikan standar dalam pemilihan anggota atau dalam hubungan sesama anggota; juga tidak dipermasalahkan tentang kewarganegaraan seseorang.
Rotary Club mencekoki anggotanya agar mengikuti agama yang diakui atas dasar persamaan sesuai urutan abjad, seperti Budha, Islam, Yahudi, Masehi, dan seterusnya. Dalam urutan terakhir tersebut, Taoisme, sebuah keyakinan orang-orang Tiong Hoa yang muncul pada abad ke-6 SM, meyakini bahwa kebahagiaan dapat terpenuhi dengan tercapainya kebutuhan insting manusia dan kemudahan hubungan sosial dan politik sesama manusia.
Menurut mereka, amal kebaikan harus dilaksanakan karena menunggu balasan materi atau nonmateri. Ini jelas bertentangan dengan konsep agama yang mengaitkan pekerjaan suka rela dengan pahala berlipat ganda di sisi Allah.
Mereka mengadakan pertemuan mingguan. Setiap anggota harus hadir 60% dalam setahun. Keanggotaan tidak terbuka untuk semua orang. Orang yang berminat menjadi anggota harus menunggu undangan club untuk bergabung dengannya sesuai dengan prinsip selektivitas. Klasifikasi keanggotaan didasarkan pada pekerjaan pokok yang mencakup 77 macam jenis pekerjaan. Para pekerja (buruh) tidak dibenarkan menjadi anggota. Club hanya memilih orang yang memiliki status sosial tinggi. Tingkat usia anggota sangat diperhatikan. Mereka bekerja menghidupkan organisasi dengan cara merekrut kaum laki-laki berusia produktif.
Dalam setiap club, harus ada seorang wakil dari setiap profesi. Aturan ini sering dijadikan kesempatan untuk mengangkat anggota yang disukai dan menyingkirkan yang tidak disukai. Dalam Dewan Administrasi Club, harus ada satu atau dua orang ketua club lama sebagai pewaris langsung rahasia Rotary sejak Paul Harris.
Charles Marden yang pernah menjadi anggota Rotary selama tiga tahun, telah melakukan studi terhadap organisasi ini. Kemudian, ia mengemukakan beberapa data berikut. Setiap 421 orang anggota Rotary Club, 159 orang di antaranya mempunyai keterikatan kuat dengan Freemasonry. Loyalitas mereka terhadap Freemasonry melebihi clubnya. Dalam beberapa hal keanggotaan Rotary hanya terbatas untuk orang-orang Freemasonry, seperti di Edinburgh Inggris pada tahun 1921.
Dalam sebuah perkumpulan yang disebut Nan's di Perancis disebutkan, "Jika orang-orang Freemasonry membentuk organisasi yang bekerja sama dengan golongan lain, urusan organisasi tidak boleh berada di tangan orang lain. Personil organisasinya harus dipegang orang-orang Freemasonry dan harus berjalan sesuai dengan prinsip Freemasonry."
Ketika Freemasonry mengalami penyusutan, justru Rotary mendapat dukungan sangat besar dan aktivitasnya semakin kuat. Hal ini karena orang-orang Freemasonry mengalihkan segala aktifitasnya kepada club Rotary sampai tekanan-tekanan terhadap mereka hilang dan kondisinya kembali seperti semula.
Rotary didirikan 1905, yaitu tahun-tahun menjelang aktifnya Freemasonry di Amerika. Di antara programnya ialah diselenggarakan kunjungan antar club. Di beberapa kota dibentuk Dewan Pimpinan Club sebagai koordinator antarclub. Untuk menjadi anggota atau simpatisan Rotary maupun Freemasonry, seseorang harus menunggu panggilan dari pengurus club.
Ada beberapa club yang ide dan caranya sangat mirip Rotary, yaitu Lions, Kiwany, Exchange, The Round Table, Pulpen, dan B'Nai B'Rith. Bentuk dan aktivitas club-club ini hampir sama dengan Rotary, begitu juga tujuannya. Kendati dalam beberapa hal terdapat perbedaan, tetapi hal itu hanyalah untuk memperbanyak cara penyebaran ide dan penyedotan pendukung.
Akar Pemikiran dan Sifat Idiologinya
Dalam soal agama dan tanah air serta keteguhannya memegang prinsip selektivitas, Rotary Club mempunyai persamaan besar dengan Freemasonry. Keduanya memiliki pemahaman yang sama tentang nilai dan semangat yang membentuk jiwa seseorang, seperti ide egaliti, fraterniti, semangat humanisme, dan kerjasama internasional. Ini adalah semangat yang sangat berbahaya yang diarahkan untuk mengikis karakteristik bangsa-bangsa dan menguburkan segala bentuk loyalitas, sehingga pribadi-pribadi akan kehilangan identitas dan harga diri serta hidup dalam kebimbangan. Akibatnya, tak ada lagi kekuatan yang dominan, kecuali orang-orang Yahudi yang terus-menerus berambisi mendominasi dunia.
Rotary dan club-club yang sejenis dengannya bekerja aktif sesuai rencana Yahudi di bawah naungan dominasi Freemasonry serta orang-orang yang berperan aktif dalam Yahudi internasional, baik secara teoretis maupun secara praktis. Organisasi ini sepenuhnya untuk kepentingan Yahudi.
Dalam kepemimpinan, antara Rotary dan Freemasonry tidak sama. Ketua dan pimpinan Freemasonry tetap misterius. Sebaliknya, mungkin saja Rotary dapat ditelusuri asal-usulnya, baik pendiri maupun para terasnya. Untuk mendirikan cabang Rotary (di mana saja) tidak boleh sembarangan, kecuali dengan pengukuhan dari pucuk pimpinan internasional dan di bawah pengawasan kantor lama.
Dalam rangka kemudahan hubungan dengan berbagai sekte dan golongan, Rotary berpura-pura membatasi aktivitasnya dalam masalah-masalah sosial dan kultural demi kemanusiaan. Cara pencapaian sasarannya melalui pertemuan-pertemuan berkala, seminar, ceramah yang mengarah pada upaya mendekatkan antaragama dan menghapus segala perbedaan keagamaan. Ini mirip dengan ceramahnya para pendudung teologi inklusive, seperti yang digemar-gemborkan kelompok jaringan Islam Liberal.
Motivasi Rotary yang sebenarnya ialah membaurkan orang-orang Yahudi dengan bangsa lain dengan mengatasnamakan kasih dan persaudaraan. Melalui jalan ini mereka mampu mengumpulkan berbagai maklumat yang dapat membantu mereka dalam membantu tujuan mereka yang bersifat ekonomis dan politis, juga membantu mereka dalam menyebarkan tradisi tertentu yang akan memastikan timbulnya kemerosotan (degenerate) sosial. Ini dapat kita lihat melalui persyaratan keanggotaan yang hanya diberikan kepada orang-orang penting dan menonjol di masyarakat.
Tempat Tersiar dan Kawasan Pengaruhnya
Pertama kali Rotary tumbuh di Amerika pada tahun 1905, kemudian pindah ke menyebar ke beberapa negara Eropa lainnya. Dari benua itu, club ini kemudian menyebar dan memiliki cabangnya di hampir seluruh dunia.
Ia mempunyai cabang di Israel dan negara-negara Arab: Mesir, Yordania, Tunisia, Aljazair, Libiya, Maroko, dan Libanon. Beirut adalah pusat perkumpulan tersebut di Timur Tengah.
Referensi:
Lembaga Kajian dan Penelitian WAMY, Gerakan Keagamaan dan Pemikiran; Akar Idiologis dan Penyebarannya.
Dr. Nashir Al-Qifari & Dr. Nashir Al-‘Aql, Al-Mausu’ah fil Adyan wal Madzahib Al-Mu’ashirah.
http://swaramuslim.net/more.php?id=A89_0_1_0_M Read More......
Tuesday, April 28, 2009
Mengenal Firqah-Firqah Yahudi
FREEMASONRY
Secara hakikat, Freemasonry atau Al-Masuniyyah (dalam bahasa Arab) adalah sebuah organisasi Yahudi Internasional bawah tanah yang tidak ada hubungannya dengan tukang-tukang bangunan yang terdapat pada abad pertengahan.
Freemasonry di atas juga tidak ada hubungannya dengan kegiatan pembangunan kapal atau katedral besar seperti yang banyak diduga oleh sebagian orang. Tetapi maksud Freemasonry di sini adalah tidak terikat dengan ikatan pihak manapun kecuali sesama freemason.
Freemasonry berasal dari gerakan rahasia yang dibuat oleh sembilan orang Yahudi di Palestina pada tahun 37 M, yang dimaksudkan sebagai usaha untuk melawan pemeluk Masehi, dengan cara pembunuhan terhadap orang per-orang.
Pada tahun 1717 M gerakan rahasia ini melangsungkan seminar di London di bawah pimpinan Anderson. Ia secara formal menjabat sebagai kepala gereja Protestan, namun pada hakikatnya adalah seorang Yahudi. Dalam seminar inilah gerakan rahasia tersebut memakai nama Freemasonry sebagai nama barunya. Sebagai pendirinya adalah Adam Wishaupt, seorang tokoh Yahudi dari London, yang kemudian mendapatkan dukungan dari Albert Pike, seorang jenderal Amerika (1809-1891).
Organisasi ini sulit dilacak karena strukturnya sangat rahasia, teratur, dan rapi. Tujuan gerakan Freemasonry secara umum adalah:
1. Menghapus semua agama.
2. Menghapus sistem keluarga.
3. Mengkucarkacirkan sistem politik dunia.
4. Selalu bekerja untuk menghancurkan kesejahteraan manusia dan merusak kehidupan politik, ekonomi, dan sosial negara-negara non-Yahudi atau Goyim (sebutan dari bangsa lain di luar Yahudi).
Tujuan akhir dari gerakan Freemason adalah mengembalikan bangunan Haikal Sulaiman yang terletak di Masjid Al-Aqsha, di kota Al-Quds (Yerussalem), mengibarkan bendera Israel, serta mendirikan pemerintahan Zionis Internasional, seperti yang diterapkan dalam Protokol para cendekiawan Zionis.
Buku Protokol ini berisikan langkah-langkah yang telah ditetapkan oleh para hakkom, catatan pembicaraan yang dilakukan di dalam setiap rapat mereka, serta berisikan 24 bagian (ayat) yang mencakup rencana politik, ekonomi, dan keuangan, dengan tujuan menghancurkan setiap bangsa dan pemerintahan non-Yahudi, serta menyiapkan jalan penguasaan bagi orang-orang Yahudi terhadap dunia Internasional.
Dalam gerakannya, Freemasonry menggunakan tangan-tangan cendekiawan dan hartawan Goyim, tetapi di bawah kontrol orang Yahudi pilihan. Hasil dari gerakan ini di antaranya adalah mencetuskan tiga perang dunia, tiga revolusi (Revolusi Perancis, Revolusi Amerika, dan Revolusi Industri di Inggris), melahirkan tiga gerakan utama (Zionisme, Komunisme, dan Nazisme)
Freemansory terbagi ke dalam tiga tingkatan:
(1) Majelis Rendah atau Freemansory Simbolis;
(2) Fremansory Majelis Menengah; dan
(3) Fremansory Majelis Tinggi.
Dalam penerimaan keanggotaan, Freemasonry tidak mempersoalkan agama calon anggota. Bahkan calon anggota disumpah sesuai dengan agama yang dianutnya. Dalam Freemasonry diadakan model kenaikan pangkat hingg level ke-33 bagi orang-orang Goyim. Orang-orang yang berhasil dijaring kemudian diberikan tugas untuk menyebarkan paham Freemasonry dan bekerja untuk merealisasikan tujuannya.
Orang-orang tertarik kepada Freemasonry karena mereka menganggap bahwa organisasi ini bergerak di bidang kemanusiaan. Di balik itu mereka menanamkan doktirn “Pengembangan Agama” atau “Polotisme”, yang mengatakan semua agama itu sama, baik, dan benar. Lebih jauh Freemasonry dengan secara halus membawa anggotanya memahami Atheisme.
Peranan Freemasonry dalam Meruntuhkan Khilafah Turki Utsmani
Dalam usaha menguasai Palestina, selain strategi langsung menemui Sultan Abdul Hamid II, penguasa terakhir Daulah Turki Utsmani yang paling terkemuka. Kaum Yahudi-Zionis juga melancarkan strategi tidak langsung melalui gerakan Freemansory. Gerakan ini memiliki hubungan yang sangat kuat dengan organisasi “Ittihat ve Terrakki” (Al-Ittihad wa At-Tarraqqi; Persatuan dan Kemajuan) yang berkembang sangat pesat di Salonika, Yunani.
Anggota-anggota Komite Persatuan dan Kemajuan, yang dikenal sebagai kelompok Turki Muda (Young Turks), diketahui sangat dekat dengan militer dan banyak anggota-anggotanya yang merupakan orang Yahudi (Jews) dan Cryto Jews Salonika. Untuk menjalankan roda organisasi, mereka mendapatkan dukungan finansial dari orang-orang Dunama, yaitu sekelompok Yahudi yang masuk Islam, namun secara diam-diam tetap mempertahankan keyahudiannya.
Pemberlakuan kembali perlembagaan 1879 telah menyulut kerusuhan yang terjadi pada tanggal 13 April 1909 yang menunjukkan penolakan masyarakat yang mayoritas Muslim terhadap kekuasaan Komite Persatuan dan Kemajuan sekaligus wujud kebencian terhadap Freemasonry, terutama dari kalangan ulama. Para ulama menilai bahwa perlembagaan 1879 dapat membawa Khilafah Utsmaniyah ke arah sekularisme dan pemberangusan terhadap syariat Islam.
Untuk “memulihkan ketertiban”, para pejabat militer Macedonia mengirimkan pasukan Harekat Ordusu dari Salonika.
Akan tetapi pasukan yang dipimpin oleh Dunama-Freemason bernama Ramzy Bey ini malah berbalik menyerang kedudukan Sultan dan menghancurkan barikade-barikade pertahanan para penentang konstitusi. Akibat peristiwa ini kemudian dipecatnya Sultan Abdul Hamid II dari kedudukannya sebagai Sultan-Khalifah oleh parlemen.
Terhadap peristiwa pemecatan ini, Sultan Abdul Hamid II menuding kelompok Yahudi sebagai pihak yang bertanggung jawab. Hal ini terungkap dalam surat Sultan Abdul Hamid II kepada salah seorang gurunya, Syekh Mahmud Abu Syamad, yang berbunyi:
~ Seandainya kalian membayar dengan seluruh isi bumi ini, aku tidak akan menerima tawaran itu. Tiga puluh tahun lebih aku hidup mengabdi kepada kaum Muslimin dan kepada Islam itu sendiri. Aku tidak akan mencoreng lembaran sejarah Islam yang telah dirintis oleh nenek moyangku, para Sultan dan Khalifah Uthmaniah. Sekali lagi aku tidak akan menerima tawaran kalian ~
Setelah mendengar dan mengetahui sikap dari jawaban saya itu, mereka dengan kekuatan rahsia yang dimiliki memaksa saya menanggalkan kekhalifahan, dan mengancam akan mengasingkan saya di Salonika. Maka terpaksa saya menerima keputusan itu daripada menyetujui permintaan mereka.
Saya banyak bersyukur kepada Allah, karena saya menolak untuk mencoreng Daulah Utsmaniyah, dan dunia Islam pada umumnya dengan noda abadi yang diakibatkan oleh berdirinya negeri Yahudi di tanah Palestina. Biarlah semua berlalu. Saya tidak bosan-bosan mengulang rasa syukur kepada Allah Ta’ala, yang telah menyelamatkan kita dari aib besar itu. Saya rasa cukup di sini apa yang perlu saya sampaikan dan sudilah anda dan segenap ikhwan menerima
salam hormat saya. Guruku Yang Mulia, mungkin sudah terlalu banyak yang saya sampaikan. Harapan saya, Anda beserta jamaah yang Anda bina bisa memaklumi semua itu.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
22 September 1909
ttd
Pelayan Kaum Muslimin,
Abdul Hamid bin Abdul Majid
(Carr, 1991:21)
Penurunan Sultan Abdul Hamid II dari kedudukannya sebagai Sultan-Khalifah menandai berkuasanya Komite Persatuan dan Kemajuan secara langsung dalam pemerintahan Uthmaniah. Untuk melempangkan kekuasaannya, maka kemudian Komite Persatuan dan Kemajuan mengambil garis tegas untuk menjalankan ide Turanisme (Nasionalisme Turki) di berbagai bidang.
Sementara itu, pada tanggal 21 November terjadi perjanjian antara Inggris dan Turki untuk membahas penyelesaian masalah Turki. Dalam kesempatan tersebut Inggris mengajukan syarat-syarat agar pasukannya dapat ditarik dari wilayah Turki, yang dikenal dengan “Perjanjian Luzon”, yaitu:
1. Turki harus menghapuskan Khilafah Islamiyah serta mengusir khalifahnya dan menyita semua harta kekayaannya.
2. Turki harus berjanji untuk menghalangi setiap gerakan yang membela kekhalifahan.
3. Turki harus memutuskan hubungannya dengan dunia Islam.
4. Turki harus menerapkan hukum sipil sebagai pengganti hukum Daulah Utsmaniyah yang bersumberkan Islam.
Penghapusan khilafah ini kemudian diikuti dengan pemberangusan segala unsur Islam dalam masyarakat. Dari mulai penutupan dan pengalihfungsian masjid-masjid, pelarangan penggunaan bahasa Arab, tulisan Arab dan pakaian Muslim, hingga penghapusan Mahkamah Syariah dan perubahan penanggalan ke kalender Masehi. Dengan demikian berakhirlah Khilafah Turki Utsmani yang telah dipertahankan selama sekitar 640 tahun.
Prestasi Musthafa Kamal Attaturk, agen Freemasonry dalam menghapuskan Khilfah Turki Utmani tersebut sangat dibanggakan oleh Freemasonry, hingga disebutkan dalam Ensiklopedi Freemasonry:
“Revolusi Turki (yang dimulai) pada tahun 1918 yang diprakarsai oleh saudara yang mulia Mustafa Kamal Attaturk sangat menguntungkan rakyat, melenyapkan kekuasaan Sultan, memberantas Khilafah, menghilangkan Mahkamah
Syariat, menyingkirkan perananan agama Islam, dan menghapuskan kementerian Wakaf (Agama). Bukankah semua ini merupakan pembaruan yang dikehendaki Freemasonry dalam setiap bangsa yang sedang bangkit? Siapakah di antara tokoh Freemasonry yang dapat menandingi Attaturk, baik dulu maupun sekarang?” (Al-Kailani, 1992: 190).
Wallahu a’lam.
Sumber: Ar-risalah
1. Dr. Nashir Al-‘Aql, Muqaddimat fil Iftiraq wal Bida’.
2. WAMY, Al-Mausu’ah Al-Muyassarah fi Adyan wal Madzahib Al-Mu’ashirah.
3. Dr. Majid Al-Kailani, Bahaya Zionisme terhadap Dunia Islam.
4. Adelmazeder, Parasit Aqidah.
5. William G. Carr, Yahudi Menggenggam Dunia, Pustaka Al-Kautsar.
6. Irfan S. Awwas dan Drs. Muh. Thalib (Ed.), Doktrin Zionisme dan Ideologi, Wihdah Press.
http://swaramuslim.net/more.php?id=534_0_1_11_M
Read More......