Showing posts with label Kebajikan. Show all posts
Showing posts with label Kebajikan. Show all posts

Monday, December 7, 2009

The Heart is where it begins


Have you ever been told to listen to your heart?
Why do people tell us so? Is the heart right? Is it necessarily the best choice for us?

The heart is where every thought, every action and everything that defines us begins.

How do you define your heart? What is it?


Al-Nawwas bin Sam'an, radiyallahu 'anhu, reported that the Prophet, sallallahu 'alayhi wasallam, said:

"Righteousness is good character, and sin is that which wavers in your heart and which you do not want people to know about."

[Muslim]

According to Wabisah bin Ma'bad, radiyallahu 'anhu, who said:

I came to the Messenger of Allah, sallallahu 'alayhi wasallam, and he said: "You have come to ask about righteousness ?" " Yes," I answered. He said: "Consult your heart. Righteousness is that about which the soul feels tranquil and the heart feels tranquil, and sin is what creates restlessness in the soul and moves to and fro in the breast, even though people give you their opinion (in your favour) and continue to do so."
[A good hadith transmitted from the Musnads of the two Imams, Ahmad bin Hanbal and Al-Darim

(This is what I obtained from the hadith classes conducted in MMU Surau. Any mistake is purely my own fault. Please comment if there are any mistakes)

The first thing that should be pointed out is that even though the second hadith is weak by itself, due to supporting evidence it is raised to the level of hasan (authentic). These two hadiths state the meaning of righteousness and sinfulness. (Taken from http://fortyhadith.iiu.edu.my/hadith27.htm)

People say charity starts from the home but I feel that anything we do, it starts from ourselves. It is from our heart that we decide (for ourselves) what is the course of action that we wish to take.
Even the poorest and most misrable can give charity to others. It can be in a form of action, words of encouragement, a helping hand or even a shoulder to cry on. Charity is not only in monetary form.
To share food when you yourself is hungry; that's charity.
To share knowledge with others; that's charity.

Two parts of the class that really struck me was this line said by the ustaz:
1. "Hate the sin, but not the sinner. (Benci perkara makruh dan bukan orang yang melakukannya.)"
2. "Help those that have been abused and help those who abuse."

From my understanding the first part means that even though someone has done something sinful, do not hate him/her.
A person can change; given the chance. So give them a chance. The sin cannot be erased but that doesn't mean that the person can't ask for Allah S.W.T. forgiveness. The second part in my opinion means that we should help people that have been abused and also those that abuse others. Why should we help those who abuse others? The people who abuse others are ultimately hurting themselves and destroying themselves in the eyes of Allah S.W.T.. We should help them by preventing or advising them against abusing others.

Every single good thing we do will be rewarded. InsyaAllah.

~cheerio

p.s. Do not kill your heart. Fill it, Feed it and Listen to it. :D
p.s.s To read more on this topic please click here!


Read More......

Friday, April 24, 2009

Ambil Peluang Buat Kebajikan



Ada yang gelisah apabila tiga kali Rasulullah saw. menyatakan akan datang ahli syurga. Dan selama tiga kali itu juga orang yang sama muncul. Beliau adalah Saad bin Abi Waqash. Kegelisahan pun menjadikan Abdullah bin Umar menyatakan diri ingin bertandang ke rumah Saad.

Malam pertama bermalam di rumah Saad, namun hasilnya biasa sahaja. Tidak ada ibadah istimewa yang berbeza dengan yang biasa diamalkan para sahabat lain. Hingga lebih dari dua malam, lantas Ibnu Umar berterus terang. “Saya cuma ingin tahu, amal istimewa apa yang anda lakukan sehingga Rasul menyebut anda ahli syurga,” begitulah persolan yang diutarakan oleh putera Umar bin Khathab ini.

Saad dengan tanpa sedikit pun merasa bangga mengatakan, “Tidak ada perbuatan ibadah saya yang istimewa, kecuali, setiap menjelang tidur, saya selalu membersihkan hati saya dari hasad, kecewa, dan benci dengan semua saudara mukmin selama pagi hingga malam. Itu saja!” Itulah jawapan Saad. Sederhana, tapi istimewa.

Berbeza dengan Ibnu Umar, Thalhah pun pernah gelisah. Beliau khuatir kalau sepotong ayat yang baru saja turun berkenaan dengan dirinya. Ayat itu berbunyi,

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahui.” (QS. 3: 92)

Kisahnya, ada satu kebun kurma subur milik Thalhah yang begitu menambat hatinya. Hampir setiap hari dia berkunjung ke situ. Solat Zuhur dan Asar di situ, tilawah dan zikir pun di kebun indah itu. Ia nikmati kicauan burung, dan pemandangan sejuk hijaunya dedaunan kurma. Menariknya, kegelisahan itu tidak ia tanyakan ke Rasulullah. Tapi, langsung ia infaqkan buat jalan dakwah. Subhanallah!

Begitulah para sahabat Rasul. Mereka begitu gelisah ketika diri belum berhasil mengambil peluang kebaikan sepenuhnya. Padahal, peluang itu sudah ditawarkan melalui ayat Alquran yang baru saja turun atau ucapan Rasul. Kegelisahan itu akan terus membuak di hati hingga mereka benar-benar telah mengambil peluang itu dengan sebaik-baiknya.

Itulah sikap ihsan yang dicontohkan para sahabat dalam mempamerkan sahsiah seorang da’ie. Mereka begitu menjaga kualiti amal agar tetap 'the best'. Selalu terdepan. Tidak hairan jika semangat fastabiqul khairat atau berlumba berbuat baik begitu memasyarakat di kalangan sahabat Rasul.

Mereka seperti terbingkai dalam sebuah ayat Al Quran tentang generasi pewaris Nabi. Dalam surah Faathir ayat 32.

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu, di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah kurnia yang amat besar.”

Sikap ihsan itulah yang menjadikan para sahabat Rasul sensiasa memiliki hubungan harmonis dengan Yang Maha Penyayang, Allah swt. Hati mereka begitu terpaut dengan kualiti ibadah yang serba terbaik. Tidak hairan jika keberkatan kemenangan selalu memancar di setiap aspek perjuangan mereka. Siapa pun yang mereka lawan. Dan apa pun bentuk rintangan perjuangan yang mereka hadapi.

Mereka begitu luarbiasa kerana setidaknya ada tiga kriteria yang mereka miliki.

Pertama, pemahaman dan ketaatan yang begitu utuh terhadap aturan Islam. Mungkin ini wajar kerana Islam yang mereka peroleh langsung dari sumbernya yang pertama, Rasulullah saw.

Kedua, kehausan mereka dengan ilmu selalu terpancar pada perubahan dalam diri dan amal di hadapan manusia. Ini mungkin yang mahal. Mereka belajar Islam bukan untuk sekadar ilmu pengetahuan. Apalagi, sekadar mengumpul ilmu. Tetapi, benar-benar sebagai penuntun langkah yang segera mereka ayunkan.

Dan ketiga, adanya keteladanan dari pihak yang sangat mereka hormati, iaitu Rasulullah saw. Membumi nilai-nilai Islam di tengah masyarakat sangat bergantung kepada qudwah hasanah yang telah dipertunjukan oleh kepimpinan Rasulullah saw, selari di antara kelilmuan, peribadi, ucapan dan perbuatan Nabi saw. .

Allah swt. berfirman, “Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

‘Aku dan orang yang mengikutiku’. Itulah simbol keteladanan yang membuahkan ketaatan dan semangat kerja yang selalu membara.

Read More......

Followers

 

Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez